Warisan Aktivitas Purba Gunung Api Bawah Laut
Judul Buku: Merahnya Batu Merah (Taman Jasper Tasikmalaya)/Harga: Rp 65.000/Jumlah halaman: sekitar 200 (full color)/Penyunting: Sujatmiko dan Eko Yulianto/Jenis Buku:
Bunga rampai (berisi kepedulian 21 penulis dari berbagai latar
belakang keilmuan dan profesi, terhadap fenomena langka yang terdapat di
Ci Medang-Tasikmalaya)/Penerbit: Kelompok Riset Cekungan Bandung
BONGKAH-bongkah
batu berwarna merah menyala itu berserakan begitu saja di lebarnya
Sungai Cimedang (Ci Medang). Ukurannya mulai sebesar kepalan tangan
hingga rumah tipe 21. Suatu pemandangan yang langka dan atraktif.
Batu-batu
ini bahkan tersebar hingga persawahan dan halaman-halaman rumah
penduduk yang bermukim di Kampung Pasirgintung, Desa Buniasih, Kecamatan
Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya. Awalnya jumlahnya lebih banyak,
namun kini menyusut secara dramatis. Berton-ton lainnya kini sudah
hijrah ke negeri sakura. Lagi-lagi, bangsa ini kecolongan.
Menurut
Sujatmiko, seorang geologis yang juga pengusaha batu mulia, fenomena Ci
Medang ini sangat langka. “Di 20 negara yang pernah kami kunjungi, kami
belum pernah menemukan yang seperti ini,” ujarnya. Jika dipetakan,
serakan batuan merah ini tak hanya terdapat di Kecamatan Pancatengah
saja, melainkan juga di wilayah-wilayah tetangganya seperti
Karangnunggal, Cipatujah, hingga Cisasah.
Mengapa
batuan merah ini demikian menarik perhatian, bahkan Jepang begitu
meminatinya? Batuan merah yang terserak di Ci Medang adalah salah satu
jenis batu mulia yang dikenal dengan nama jasper.
Batu mulia dari keluarga mineral kuarsa (SiO2) ini tak hanya berwarna merah, melainkan ada juga coklat, kuning, dan hijau. Sejarah terbentuknya batuan jasper terkait dengan aktivitas kegunungapian.
Batu mulia dari keluarga mineral kuarsa (SiO2) ini tak hanya berwarna merah, melainkan ada juga coklat, kuning, dan hijau. Sejarah terbentuknya batuan jasper terkait dengan aktivitas kegunungapian.
Diketahui
bahwa pada 25-30 juta tahun lalu, di sekitar wilayah Kampung
Pasirgintung terdapat komplek gunung api bawah laut. Komplek gunung api
ini dengan indahnya mengitari laut dangkal di wilayah ini.
Singkat
cerita, gunung-gunung bawah laut ini meletus. Dia mengeluarkan material
vulkanisnya, antara lain lava pijar. Karena bersentuhan langsung dengan
air laut, maka material vulkanis yang dikeluarkan gunung api ini
mengalami proses hidrotermal, suatu tahap awal pembentukan—salah
satunya—batuan jasper.
Sebelum
pihak Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan aturan menghentikan
penambangan jasper di kawasan ini, penduduk setempat yang tanahnya
diseraki batuan jasper sudah sempat menyewakan lahan-lahannya ke para
penambang yang antara lain “berbendera” selain Jepang juga Korea
Selatan.
Salah satu kasus penyewaan lahan mengungkapkan bahwa untuk sewa satu tahun, pemilik lahan mendapat imbalan hingga Rp 60 juta. Jumlah yang menggiurkan, apalagi untuk warga desa yang hidup jauh dari perkotaan, tanpa harus kehilangan tanahnya. Namun jumlah tersebut sebenarnya menjadi tidak sebanding dengan nilai batuan yang ditambang, belum lagi kemungkinan kerusakan ekosistem akibat penambangan.
Salah satu kasus penyewaan lahan mengungkapkan bahwa untuk sewa satu tahun, pemilik lahan mendapat imbalan hingga Rp 60 juta. Jumlah yang menggiurkan, apalagi untuk warga desa yang hidup jauh dari perkotaan, tanpa harus kehilangan tanahnya. Namun jumlah tersebut sebenarnya menjadi tidak sebanding dengan nilai batuan yang ditambang, belum lagi kemungkinan kerusakan ekosistem akibat penambangan.
Sayangnya,
warga setempat tampaknya kurang memiliki kepekaan terhadap
lingkungannya sendiri. Padahal jika saja mereka masih memegang teguh
kearifan lokal warisan nenek moyangnya, tentunya menyerahkan lahan untuk
ditambang habis-habisan adalah keputusan yang bertentangan dengan
keseimbangan lingkungan yang biasanya secara tradisional diwariskan
temurun oleh penduduk asli setempat.
Namun apa daya, kapitalisme tampaknya sudah teramat jauh menggerogoti pola hidup warga yang hidup nun di Kampung Pasirgintung, pun. (disarikan dari buku “Merahnya Batu Merah”/Judul diambil dari salah satu artikel di buku ini)
Namun apa daya, kapitalisme tampaknya sudah teramat jauh menggerogoti pola hidup warga yang hidup nun di Kampung Pasirgintung, pun. (disarikan dari buku “Merahnya Batu Merah”/Judul diambil dari salah satu artikel di buku ini)
Sumber : cekungan bandung
No comments:
Post a Comment